ENID Mulai project ↗

Riset UX vs Survei: Mana yang Kamu Butuhkan?

Survei memberi tahu apa yang orang katakan; riset UX memperlihatkan apa yang mereka lakukan. Kapan memakai masing-masing, cara menggabungkannya, dan contoh nyata dari studi di Indonesia.

Oleh Tim rekursiv. · · 3 menit baca

Website Kalbe Consumer Health yang didesain ulang setelah riset pengguna
Di artikel ini

"Kenapa nggak kirim survei aja?" adalah salah satu pertanyaan paling sering sebelum project riset dimulai. Kadang memang cukup. Tapi survei dan riset UX menjawab pertanyaan yang berbeda, dan salah pilih bisa bikin tim yakin padahal keliru.

Lihat bagaimana kami memakai keduanya di jasa riset UX kami.

Bedanya dalam satu kalimat

Survei mengukur apa yang banyak orang katakan. Riset UX memperlihatkan apa yang orang lakukan, dan alasannya.

SurveiRiset UX (tes, wawancara, lapangan)
MenjawabBerapa banyak? Seberapa puas?Kenapa? Di mana masalahnya?
PesertaBanyak (puluhan sampai ratusan)Sedikit, dipilih dengan cermat
DataApa yang orang laporkanApa yang benar-benar orang lakukan
Paling cocok untukMengukur dan membandingkanMenemukan dan memperbaiki masalah
RisikoMenanyakan hal yang salah ke banyak orangMenyimpulkan terlalu jauh dari sedikit orang

Kapan survei jadi alat yang tepat

  • Kamu perlu tahu berapa banyak orang punya kebutuhan atau masalah yang sama
  • Kamu ingin membandingkan segmen, wilayah, atau tipe pelanggan
  • Kamu sudah tahu apa yang perlu ditanyakan, karena riset sudah menemukannya lebih dulu

Kapan kamu butuh riset UX

  • Pendaftaran atau konversi turun dan kamu tidak tahu kenapa
  • Kamu akan launch atau redesign dan ingin menemukan masalah lebih dulu
  • Orang bilang produknya baik-baik saja, tapi angkanya bilang lain
Orang bilang aplikasinya mudah. Lalu mereka mencoba memakainya.

Lebih kuat kalau digabung

Studi terbaik memakai keduanya. Untuk sebuah brand yang ingin tumbuh di luar Jakarta, kami menjalankan wawancara dan turun ke event di Medan selama beberapa hari untuk memahami audiensnya, lalu menyurvei 288 orang di seluruh Indonesia untuk melihat seberapa luas temuan itu berlaku. Untuk Kalbe, riset di sembilan negara menghasilkan website dengan waktu pencarian rata-rata turun 66%.

Belum yakin mana yang kamu butuhkan? Ceritakan pertanyaannya, nanti kami sarankan metode paling ringan yang bisa menjawabnya, atau baca cara kami menjalankan riset UX.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah survei saja cukup untuk memperbaiki aplikasi?

Jarang. Orang sering bilang aplikasinya mudah, lalu tersangkut di tugas sederhana. Survei bisa memberi tahu berapa banyak orang merasakan sesuatu; usability testing dan wawancara memperlihatkan di mana dan kenapa itu terjadi.

Kapan sebaiknya memakai survei?

Saat kamu butuh angka dari kelompok besar: berapa banyak yang memakai sebuah fitur, seberapa puas mereka, atau segmen mana yang paling besar. Survei paling efektif setelah wawancara menunjukkan pertanyaan yang tepat.

Kapan sebaiknya memakai riset UX?

Saat kamu perlu tahu kenapa orang berhenti di tengah jalan, di mana sebuah alur bermasalah, atau apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Usability test, wawancara, dan kunjungan lapangan menjawab pertanyaan itu dengan sedikit orang yang tepat.

Bisakah keduanya digabung?

Bisa, dan sering kali itu yang terbaik. Di studi kami, wawancara dan kunjungan lapangan dipakai untuk menemukan masalahnya, lalu survei sampai 288 orang untuk melihat seberapa luas masalah itu.

Sumber

  1. Christian Rohrer, “When to Use Which User-Experience Research Methods”, Nielsen Norman Group
  2. “Quantitative User-Research Methodologies: An Overview”, Nielsen Norman Group
  3. Jakob Nielsen, “Why You Only Need to Test with 5 Users”, Nielsen Norman Group

Angka project dari case study rekursiv.

Project terkait

Artikel lain

Semua artikel →

Langkah berikutnya

Punya brief yang mirip? Ayo ngobrol.