Riset UX vs Survei: Mana yang Kamu Butuhkan?
Survei memberi tahu apa yang orang katakan; riset UX memperlihatkan apa yang mereka lakukan. Kapan memakai masing-masing, cara menggabungkannya, dan contoh nyata dari studi di Indonesia.

Di artikel ini
"Kenapa nggak kirim survei aja?" adalah salah satu pertanyaan paling sering sebelum project riset dimulai. Kadang memang cukup. Tapi survei dan riset UX menjawab pertanyaan yang berbeda, dan salah pilih bisa bikin tim yakin padahal keliru.
Lihat bagaimana kami memakai keduanya di jasa riset UX kami.
Bedanya dalam satu kalimat
Survei mengukur apa yang banyak orang katakan. Riset UX memperlihatkan apa yang orang lakukan, dan alasannya.
| Survei | Riset UX (tes, wawancara, lapangan) | |
|---|---|---|
| Menjawab | Berapa banyak? Seberapa puas? | Kenapa? Di mana masalahnya? |
| Peserta | Banyak (puluhan sampai ratusan) | Sedikit, dipilih dengan cermat |
| Data | Apa yang orang laporkan | Apa yang benar-benar orang lakukan |
| Paling cocok untuk | Mengukur dan membandingkan | Menemukan dan memperbaiki masalah |
| Risiko | Menanyakan hal yang salah ke banyak orang | Menyimpulkan terlalu jauh dari sedikit orang |
Kapan survei jadi alat yang tepat
- Kamu perlu tahu berapa banyak orang punya kebutuhan atau masalah yang sama
- Kamu ingin membandingkan segmen, wilayah, atau tipe pelanggan
- Kamu sudah tahu apa yang perlu ditanyakan, karena riset sudah menemukannya lebih dulu
Kapan kamu butuh riset UX
- Pendaftaran atau konversi turun dan kamu tidak tahu kenapa
- Kamu akan launch atau redesign dan ingin menemukan masalah lebih dulu
- Orang bilang produknya baik-baik saja, tapi angkanya bilang lain
Orang bilang aplikasinya mudah. Lalu mereka mencoba memakainya.
Lebih kuat kalau digabung
Studi terbaik memakai keduanya. Untuk sebuah brand yang ingin tumbuh di luar Jakarta, kami menjalankan wawancara dan turun ke event di Medan selama beberapa hari untuk memahami audiensnya, lalu menyurvei 288 orang di seluruh Indonesia untuk melihat seberapa luas temuan itu berlaku. Untuk Kalbe, riset di sembilan negara menghasilkan website dengan waktu pencarian rata-rata turun 66%.
One website, nine countriesOne website for nine countries
Kalbe Consumer Health9 countries launched
Growing a virtual worldGrowing the #JelajahDigital virtual world
Telkomsel+251% new visitors
Research beyond JakartaReaching audiences beyond Jakarta
Adult FMCG brand · Under NDA288 people surveyedBelum yakin mana yang kamu butuhkan? Ceritakan pertanyaannya, nanti kami sarankan metode paling ringan yang bisa menjawabnya, atau baca cara kami menjalankan riset UX.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apakah survei saja cukup untuk memperbaiki aplikasi?
Jarang. Orang sering bilang aplikasinya mudah, lalu tersangkut di tugas sederhana. Survei bisa memberi tahu berapa banyak orang merasakan sesuatu; usability testing dan wawancara memperlihatkan di mana dan kenapa itu terjadi.
Kapan sebaiknya memakai survei?
Saat kamu butuh angka dari kelompok besar: berapa banyak yang memakai sebuah fitur, seberapa puas mereka, atau segmen mana yang paling besar. Survei paling efektif setelah wawancara menunjukkan pertanyaan yang tepat.
Kapan sebaiknya memakai riset UX?
Saat kamu perlu tahu kenapa orang berhenti di tengah jalan, di mana sebuah alur bermasalah, atau apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Usability test, wawancara, dan kunjungan lapangan menjawab pertanyaan itu dengan sedikit orang yang tepat.
Bisakah keduanya digabung?
Bisa, dan sering kali itu yang terbaik. Di studi kami, wawancara dan kunjungan lapangan dipakai untuk menemukan masalahnya, lalu survei sampai 288 orang untuk melihat seberapa luas masalah itu.
Sumber
- Christian Rohrer, “When to Use Which User-Experience Research Methods”, Nielsen Norman Group
- “Quantitative User-Research Methodologies: An Overview”, Nielsen Norman Group
- Jakob Nielsen, “Why You Only Need to Test with 5 Users”, Nielsen Norman Group
Angka project dari case study rekursiv.
- One website for nine countries Kalbe Consumer Health
- Growing the #JelajahDigital virtual world Telkomsel
- Reaching audiences beyond Jakarta Adult FMCG brand · Under NDA


