ENID Mulai project

Software House Adalah: Pengertian, Layanan, dan Cara Memilihnya

Software house adalah perusahaan pembuat software custom. Pelajari apa yang dibangun, bedanya dengan digital agency, dan cara memilih software house.

Tim rekursiv · 3 menit baca

Aplikasi keuangan One by IFG dalam polaroid, dengan penjepit kertas dan kartu nama rekursiv
Di artikel ini

Software house adalah perusahaan yang merancang, membangun, dan merawat software custom untuk bisnis lain: aplikasi mobile, web app, dashboard, dan sistem internal. Bukan menjual satu produk jadi, software house membuat apa yang benar-benar dibutuhkan tim dan pelanggan kamu, lalu menjaganya tetap berjalan.

Lihat layanan software house Jakarta kami.

Software House Adalah

Istilah ini sangat umum di Indonesia. Software house mengambil masalah bisnis, misalnya "kontraktor kami masih mengirim dokumen keselamatan lewat email", lalu mengubahnya jadi software yang bekerja. Pekerjaannya biasanya mencakup analisis kebutuhan, desain UX dan UI, pengembangan frontend dan backend, testing, launch, dan support.

Software house berbeda dengan vendor software. Vendor menjual produk yang sama ke banyak perusahaan. Software house membangun sesuatu yang khusus untuk kamu, dan dengan kontrak yang baik, hasilnya jadi milik perusahaan kamu.

Apa Saja yang Dibuat Software House

JenisContoh
Aplikasi pelangganAplikasi bank, investasi, loyalty, dan booking di iOS dan Android
Web app dan portalPortal pelanggan, pemesanan B2B, sistem booking dan registrasi
Dashboard dan tools internalDashboard operasional, kepatuhan, dan sales, admin panel
IntegrasiMenghubungkan CRM, ERP, payment gateway, atau WhatsApp dalam satu alur
Backend dan APILapisan data, logika, dan keamanan di balik semua itu

Software House vs Digital Agency vs Tim Internal

Digital agency. Fokus ke marketing: kampanye, konten, media sosial, dan website. Cocok untuk menjangkau audiens, kurang cocok untuk membangun produk yang dipakai ribuan orang setiap hari.

Software house. Fokus membangun dan menjalankan software. Kuat di engineering, dan yang terbaik juga mengerjakan riset dan desain supaya produknya tepat sebelum dibangun.

Tim internal. Paling pas kalau software adalah inti bisnis kamu dan kamu butuh tim permanen. Merekrut product manager, desainer, engineer, dan QA butuh waktu, jadi banyak perusahaan mulai dengan software house sambil membangun tim internal.

Alur Project di Software House

  1. Discovery. Wawancara dengan stakeholder dan pengguna, tujuan, ruang lingkup, dan prioritas.
  2. Desain UX dan UI. Alur, wireframe, dan prototype yang bisa diklik.
  3. Validasi. Usability testing dengan pengguna sungguhan sebelum development berjalan penuh.
  4. Development. Frontend, backend, dan integrasi dalam sprint pendek dengan demo rutin.
  5. Testing dan launch. QA, cek keamanan, submit ke app store atau deployment.
  6. Support. Monitoring, perbaikan, dan fitur baru setelah launch.

Langkah 1 sampai 3 adalah tempat paling murah untuk berubah pikiran. Mengubah prototype cukup beberapa jam, perubahan yang sama setelah launch bisa makan waktu berminggu-minggu.

Contohnya di Project Nyata

One by IFG. Aplikasi keuangan all-in-one untuk asuransi, reksa dana, obligasi, dan saham. Pekerjaannya mencakup wawancara mendalam, usability testing dengan 15 pengguna, strategi UX, serta desain UX dan UI. Aplikasinya mencapai 75K pengguna dalam 8 bulan, dengan +6 fitur unik dan rating 4,9.

Bank BTN Cash Management System. Tampilan cash management untuk nasabah korporat yang sudah usang diperbarui tanpa membingungkan pengguna lamanya, lewat usability testing dengan 10 partisipan, heuristic evaluation, dan affinity mapping sebelum desain UX dan UI baru.

Trakindo e-CSMS. Pengecekan keselamatan kontraktor sebelumnya berjalan lewat formulir manual dan email, tanpa gambaran real-time. Hasilnya dashboard real-time untuk manajemen keselamatan kontraktor, dengan pelacakan kepatuhan, cek dokumen, dan ringkasan yang jelas untuk manajemen senior.

Cara Memilih Software House di Indonesia

  1. Produk yang sudah live. Minta aplikasi yang bisa kamu install dan sistem yang sudah dipakai, bukan hanya screenshot.
  2. Riset dan testing. Tanyakan cara mereka memvalidasi ke pengguna sebelum membangun. Usability testing di prototype menghemat kerja ulang.
  3. Satu tim. Riset, desain, dan engineering di satu atap berarti lebih sedikit serah terima dan celah.
  4. Kepemilikan. Source code, akun cloud, akun app store, dan domain sebaiknya atas nama perusahaan kamu.
  5. Data dan keamanan. Kalau software-nya menyimpan data pelanggan, tim harus paham kewajiban kamu menurut UU PDP No. 27/2022.
  6. Support setelah launch. Sepakati waktu respons, perbaikan, dan update secara tertulis.

Cara Mulai

Tulis masalahnya dalam satu paragraf, siapa penggunanya, dan seperti apa sukses dalam angka. Itu sudah cukup untuk obrolan pertama dan proposal dengan ruang lingkup yang jelas. Hubungi kami untuk membahasnya.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Software house adalah apa?

Software house adalah perusahaan yang merancang, membangun, dan merawat software custom untuk klien, misalnya aplikasi mobile, web app, dashboard, dan sistem internal, bukan menjual satu produk jadi.

Apa saja yang dibuat software house?

Umumnya aplikasi mobile untuk pelanggan, web app dan portal, dashboard serta admin panel internal, integrasi antar sistem yang sudah ada, dan backend serta API di baliknya.

Apa bedanya software house dan digital agency?

Digital agency biasanya fokus ke marketing, konten, kampanye, dan website. Software house fokus membangun dan menjalankan produk serta sistem software. Beberapa studio, termasuk rekursiv, mengerjakan riset, desain, dan engineering sekaligus.

Kapan perusahaan sebaiknya pakai software house daripada tim internal?

Saat produk butuh tim lengkap riset, desain, dan engineering dengan cepat, saat pekerjaannya berupa project yang jelas batasnya, atau saat tim internal butuh tambahan kapasitas untuk launch.

Bagaimana cara memilih software house di Indonesia?

Lihat produk yang sudah live dan bisa kamu coba, tanyakan cara mereka menguji ke pengguna sebelum launch, pastikan siapa pemilik source code dan akun, lalu sepakati support setelah launch secara tertulis.

Sumber

Angka project dari case study rekursiv

Project Terkait

Artikel Lain

Semua artikel →

Langkah berikutnya

Punya Brief yang Mirip? Ayo Ngobrol.