Cara Memilih Agency UI/UX di Indonesia
Cara memilih agency dan jasa UI/UX design di Indonesia: pertanyaan untuk agency, tanda bahaya, isi proposal yang baik, dan file yang harus kamu pegang.

Di artikel ini
Memilih jasa UI/UX design di Indonesia biasanya dimulai dari portofolio. Masalahnya, hampir semua portofolio kelihatan bagus. Pertanyaan yang lebih penting: apakah timnya mau mencari tahu kebutuhan user kamu, mendesain berdasarkan itu, dan membuktikan desainnya jalan sebelum kamu keluar uang untuk development? Artikel ini membahas cara memilih agency UI/UX: apa yang perlu ditanyakan, tanda bahaya, isi proposal yang baik, dan cara menguji agency lewat project kecil.
Kalau brief kamu sudah siap, lihat jasa desain UI/UX kami.
Mulai dari Brief Kamu Sendiri
Sebelum menghubungi agency mana pun, tulis tiga hal ini:
- Produk dan user-nya. Aplikasi trading untuk pemula butuh pendekatan beda dari dashboard untuk tim keuangan.
- Masalahnya. Pendaftaran sepi, tugas makan waktu, banyak komplain, tampilan sudah usang, atau produk baru yang belum launch.
- Setelah desain, lalu apa. Developer internal yang membangun, atau agency juga yang mengerjakan development?
Brief yang jelas bikin proposal bisa dibandingkan. Tanpa brief, tiap agency menjawab pertanyaan yang berbeda.
Pertanyaan untuk Agency UI/UX
Pakai daftar ini di meeting pertama. Jawabannya lebih jujur dari deck mereka.
| Tanya | Jawaban yang baik |
|---|---|
| Bagaimana kalian mengenal user kami? | Wawancara, usability testing, atau review data, direncanakan sebelum desain |
| Siapa yang akan mengerjakan project kami? | Peran yang jelas, dan orang yang kamu temui memang yang mengerjakan |
| Riset dikerjakan sendiri? | Researcher mereka sendiri yang rekrut, moderasi, dan analisis sesi |
| Bagaimana desainnya diuji? | Prototipe yang bisa diklik diuji ke user sungguhan, lalu direvisi |
| Ada produk yang sudah live? | Aplikasi yang bisa diunduh, website yang bisa dibuka, bukan cuma mockup |
| Apa yang berubah setelah project? | Angka dari produknya, misalnya waktu tugas, pendaftaran, atau rating |
| Siapa yang membangun? | Developer mereka sendiri, atau serah terima yang jelas ke tim kamu |
| Apa yang kami pegang di akhir? | Semua file sumber, design system, dan dokumentasi |
Perhatikan juga cara mereka bertanya balik. Agency yang baik akan menanyakan siapa user kamu, data apa yang sudah ada, dan target bisnisnya apa. Kalau di meeting pertama mereka langsung bicara soal gaya visual tanpa bertanya soal user, itu sinyal awal yang perlu kamu catat.
Tanda Bahaya
- Cuma layar cantik. Portofolionya penuh visual, tapi tidak ada cerita soal user, masalah, atau hasil.
- Tidak ada riset di rencana kerja. Proposalnya langsung lompat dari kickoff ke UI final.
- "Nanti dites setelah launch." Memperbaiki aplikasi yang sudah live jauh lebih mahal daripada memperbaiki prototipe.
- Tim berganti setelah tanda tangan. Yang presentasi orang senior, yang mengerjakan orang yang belum pernah kamu temui.
- Hasil kerjanya kabur. Tertulis "desain UI aplikasi", tanpa daftar alur, layar, atau file.
- File dipegang agency. Kamu tidak boleh butuh izin untuk mengubah produk sendiri.
- Desainer dan developer tidak ngobrol. Desainer kirim file lalu pergi, developer menebak sisanya.
Isi Proposal yang Baik
Proposal dari agency UI/UX yang serius terbaca seperti rencana, bukan daftar harga. Cek isinya:
- Tujuan dengan bahasa kamu, terhubung ke masalah di brief.
- Cakupan per alur, misalnya pendaftaran, pencarian, atau checkout, bukan cuma "seluruh aplikasi".
- Tahap riset: siapa yang diwawancara atau diuji, cara rekrutnya, dan berapa orang.
- Tahap desain: user flow, wireframe, UI, prototipe, testing, dan revisi.
- Daftar hasil: file apa saja yang kamu terima.
- Timeline dengan checkpoint, jadi kamu review bertahap, bukan sekali di akhir.
- Tim, per peran.
- Serah terima ke development, entah ke tim mereka atau tim kamu.
Kalau dua proposal harganya mirip tapi cuma satu yang menjelaskan cara melibatkan user, perbedaan itu lebih penting dari harganya.
Jalankan Project Pertama yang Kecil
Cara paling aman memilih agency adalah mencoba kerja bareng di project kecil. Pilih satu alur utama yang paling penting buat bisnis, misalnya pendaftaran, mencari produk, atau pembelian pertama.
Project pertama seperti ini biasanya berisi:
- Review singkat alur yang sekarang dan data yang kamu punya.
- Beberapa wawancara dengan user sungguhan.
- Alur baru dalam bentuk prototipe yang bisa diklik.
- Satu putaran usability testing ke user sungguhan dengan prototipe itu.
- Desain hasil revisi dan daftar perbaikan berikutnya.
Dari sini kamu tahu cara tim itu berpikir, cara mereka berkomunikasi, dan apakah temuannya masuk akal, sebelum berkomitmen ke produk penuh.
File yang Harus Kamu Pegang
Di akhir project UI/UX, pastikan kamu menerima:
- File Figma dengan semua layar dan state: kosong, loading, error, dan berhasil.
- Design system: warna, tipografi, spacing, dan komponen yang bisa dipakai ulang, supaya layar baru tetap konsisten.
- Prototipe yang dipakai saat testing.
- Temuan riset: apa yang dilakukan user, di mana mereka bingung, dan apa yang diubah karena itu.
- Dokumentasi alur, aturan, dan edge case yang dibutuhkan developer.
Tulis kepemilikan file ini di kontrak. Kalau tim kamu tidak bisa mengubah produk tanpa agency, produk itu belum sepenuhnya milik kamu.
Cara Kerja rekursiv
rekursiv adalah agency UI/UX di Jakarta Selatan, di The Manhattan Square, Jl. TB Simatupang, dan sudah berjalan sejak 2021. Tim riset UX kami in-house, dan desain serta development ada di satu tim. Jadi yang kami uji itulah yang dibangun. Jasa desain UI/UX kami mencakup riset, desain, prototipe, dan testing untuk aplikasi, website, dan dashboard.
IFGLihat project →
One by IFG. Aplikasi keuangan yang menggabungkan asuransi, reksa dana, obligasi, dan saham. Kami menjalankan wawancara mendalam dan usability testing dengan 15 user sebelum launch. Aplikasinya mencapai 75K user dalam 8 bulan dengan rating 4.9.
Bahana Sekuritas. Aplikasi trading DXTrade sudah bertahun-tahun tidak diperbarui besar-besaran. Setelah riset user dan redesain, pendaftaran jadi 62% lebih cepat dan mencari produk 92% lebih cepat.
Mirae Asset Sekuritas. Sebelum M-Stock launch, kami menjalankan usability testing dengan 30 trader, investor, dan pemula, lalu menyusun strategi perbaikan UI. Aplikasinya punya rating 4.7, dan 89% strateginya sudah diterapkan.
Kalbe Consumer Health. Satu website untuk 9 negara, dirancang untuk orang dengan literasi digital rendah. Waktu pencarian rata-rata turun 66%.
Cara Mulai
Tulis brief satu halaman, pilih dua atau tiga agency, lalu ajukan pertanyaan di atas ke masing-masing. Setelah itu, pilih satu alur utama dan jalankan sebagai project pertama dengan user sungguhan. Cara agency menangani pekerjaan kecil itu adalah gambaran terbaik untuk project penuhnya.
Sedang cari jasa UI/UX design di Jakarta? Lihat jasa desain UI/UX kami atau hubungi kami.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa yang dikerjakan agency UI/UX?
Agency UI/UX meriset cara orang memakai produk, merancang user flow dan layar aplikasi, website, atau dashboard, membuat prototipe yang bisa diklik, lalu mengujinya ke user sungguhan. Banyak agency juga menyerahkan design system supaya developer bisa membangun layarnya dengan konsisten.
Bagaimana cara memilih agency UI/UX di Indonesia?
Lihat produk live di portofolionya, tanya bagaimana mereka melibatkan user sebelum dan sesudah desain, tanya siapa yang mengerjakan dan siapa yang membangun, lalu cek apakah proposalnya jelas soal cakupan dan hasil. Project pertama yang kecil di satu alur utama adalah cara paling aman untuk melihat cara kerja timnya.
Perlukah agency melakukan riset user, atau cukup desain saja?
Desain tanpa riset itu tebakan. Tanya apakah agency menjalankan wawancara dan usability testing sendiri, biasanya dengan berapa partisipan, dan bagaimana temuannya mengubah desain.
File apa yang harus saya terima di akhir project UI/UX?
File Figma dengan semua layar dan state, design system atau library komponen, prototipe yang bisa diklik, temuan riset, dan dokumentasi alur, aturan, serta edge case untuk developer.
Apa yang ditawarkan rekursiv?
rekursiv adalah agency UI/UX di Jakarta Selatan dengan tim riset UX in-house. Kami meriset, mendesain, dan menguji aplikasi, website, dan dashboard, dan tim development kami bisa langsung membangun hasil desainnya.
Sumber
Angka project dari case study rekursiv
- One by IFG, an all-in-one finance app IFG
- Revitalizing a stock trading app Bahana Sekuritas
- Pre-launch UX research for a trading app Mirae Asset Sekuritas





