Riset UX Adalah: Pengertian, Metode, dan Kapan Kamu Membutuhkannya
Riset UX adalah cara memahami bagaimana pengguna memakai produkmu. Kenali metodenya, kapan dijalankan, dan hasilnya di aplikasi dan website di Indonesia.

Di artikel ini
Riset UX adalah cara tim mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan pengguna dengan sebuah produk, di mana mereka tersendat, dan apa yang mereka harapkan, sebelum budget habis untuk membangun hal yang keliru. Tebakan "kayaknya user mau fitur ini" diganti dengan bukti dari wawancara, tes, dan data.
Lihat layanan riset UX kami.
Riset UX Adalah
Riset UX (UX research atau user experience research) adalah kegiatan mempelajari orang yang memakai, atau akan memakai, sebuah produk. Yang dilihat adalah perilaku, kebutuhan, dan frustrasi mereka, lalu semuanya diolah jadi keputusan: apa yang dibangun, apa yang diubah, dan apa yang dibiarkan.
Riset UX berbeda dari riset pasar. Riset pasar bertanya siapa yang akan membeli dan kenapa. Riset UX bertanya bagaimana orang benar-benar memakai aplikasi, website, atau layanan, dan kenapa produk itu berhasil atau gagal buat mereka.
Metode Riset UX yang Paling Sering Dipakai
| Metode | Pertanyaan yang dijawab | Waktu yang pas |
|---|---|---|
| Wawancara mendalam | Kenapa orang berperilaku begini? Apa kebutuhannya? | Awal project |
| Focus group discussion (FGD) | Bagaimana sekelompok orang membicarakan sebuah masalah atau konsep? | Tahap konsep awal |
| Usability testing | Di mana orang kesulitan saat mencoba sebuah tugas? | Prototype dan sebelum launch |
| Uji konsep atau A/B | Dari dua arah desain, mana yang lebih berhasil? | Sebelum memilih desain |
| Survei | Seberapa umum sebuah perilaku atau pendapat? | Kapan saja, untuk mengukur temuan |
| Review analitik | Di mana orang berhenti di produk yang sudah live? | Setelah launch |
| Heuristic evaluation | Prinsip usability mana yang dilanggar desain? | Audit cepat produk yang sudah ada |
Pegangan sederhananya: metode kualitatif (wawancara, FGD, usability testing) menjelaskan kenapa, metode kuantitatif (survei, analitik) menunjukkan berapa banyak. Studi yang baik biasanya menggabungkan keduanya.
Kapan Kamu Butuh Riset UX?
- Sebelum membangun. Untuk memahami pengguna dan memilih masalah yang paling layak diselesaikan.
- Saat mendesain. Untuk menguji wireframe dan prototype selagi perubahan masih murah.
- Sebelum launch. Untuk menangkap hambatan di alur penting seperti daftar akun, pembayaran, atau pencarian.
- Setelah launch. Untuk membaca analitik, menemukan titik orang berhenti, dan merencanakan perbaikan berikutnya.
Kalau kamu sedang merombak produk yang sudah dipakai banyak orang, mulailah dari riset pada versi yang live. Pengguna lama bisa menunjukkan dengan tepat apa yang memperlambat mereka.
Contoh Hasil Riset UX di Project Nyata
PLN Mobile. Revamp super app PLN dimulai dari riset bersama pengguna sungguhan. Kami mengumpulkan insight dari 40+ pengguna aplikasi yang sedang live. Mereka merasa aplikasinya terlihat usang, langkahnya terlalu banyak, info penting tersembunyi, dan istilahnya asing. Setelah itu ada FGD dan usability testing dengan 8 persona di berbagai daerah di Indonesia, dan temuannya dibawa sampai ke UI final.
Kalbe Consumer Health. Satu website untuk 9 negara, dirancang untuk orang dengan literasi digital rendah. User research, analisis user journey, dan usability testing membentuk desainnya. Setelah launch, rata-rata waktu mencari turun 66%, konversi ke pembelian mencapai 4,3%, dan durasi sesi rata-rata 2 menit 3 detik.
Mirae Asset Sekuritas. Sebelum meluncurkan aplikasi trading M-Stock, Mirae ingin bukti bahwa customer journey-nya berjalan. Kami menjalankan usability testing dengan 30 trader, investor, dan pemula, lalu menyusun strategi perbaikan UI. 89% strategi itu diterapkan, dan aplikasinya punya rating 4,7.
Hasil Akhir yang Kamu Terima
Studi yang baik berakhir dengan sesuatu yang bisa langsung dikerjakan tim, bukan cuma laporan tebal:
- temuan utama, diurutkan dari dampaknya ke pengguna dan bisnis;
- persona atau tipe pengguna berdasarkan perilaku nyata;
- journey map yang menunjukkan di mana orang tersendat;
- rekomendasi berprioritas, sering lengkap dengan wireframe untuk perbaikan teratas.
Rekaman, Persetujuan, dan Data Pribadi
Wawancara dan tes biasanya direkam: suara, layar, kadang wajah. Di Indonesia, semua itu termasuk data pribadi menurut UU PDP No. 27/2022. Minta persetujuan yang jelas, jelaskan bagaimana rekaman dipakai dan disimpan, dan simpan hanya selama studi membutuhkannya.
Cara Mulai
- Tulis satu keputusan yang harus didukung oleh riset ini.
- Kumpulkan apa yang sudah kamu tahu dari analitik, keluhan pelanggan, dan tim sales.
- Pilih satu atau dua metode yang cocok dengan pertanyaan dan tahap project.
- Rekrut responden yang mirip pengguna sungguhan, bukan sekadar rekan kantor.
Ada keputusan produk yang sebentar lagi harus diambil? Ngobrol dengan kami, kami bantu menentukan studi yang tepat.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Riset UX adalah apa?
Riset UX (UX research) adalah kegiatan mempelajari bagaimana orang sungguhan memakai sebuah produk, lewat metode seperti wawancara, FGD, usability testing, survei, dan analitik, supaya keputusan desain dan bisnis berdasar bukti.
Apa bedanya riset UX dengan riset pasar?
Riset pasar mencari tahu siapa yang akan membeli dan kenapa. Riset UX melihat bagaimana orang benar-benar memakai produk atau prototype, di mana mereka bingung, dan apa yang mereka harapkan.
Kapan sebaiknya riset UX dilakukan?
Di awal project untuk memahami pengguna, saat desain untuk menguji prototype, dan sebelum launch untuk menangkap hambatan. Setelah launch, analitik dan tes lanjutan menunjukkan apa yang perlu diperbaiki berikutnya.
Metode riset UX mana yang sebaiknya dipakai?
Wawancara dan FGD menjelaskan kenapa orang berperilaku tertentu. Usability testing menunjukkan di mana mereka kesulitan. Survei dan analitik mengukur seberapa umum sebuah perilaku. Kebanyakan project menggabungkan dua atau tiga metode.
Apakah riset UX butuh banyak responden?
Tidak selalu. Studi kualitatif seperti usability testing sering sudah menemukan masalah utama dengan kelompok kecil per tipe pengguna, sedangkan survei butuh sampel lebih besar untuk mengukur seberapa luas sebuah pola.
Sumber
- When to Use Which User-Experience Research Methods, Nielsen Norman Group
- UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (JDIH BPK RI)
Angka project dari case study rekursiv
- Revamping the PLN Mobile super app PLN
- One website for nine countries Kalbe Consumer Health
- Pre-launch UX research for a trading app Mirae Asset Sekuritas





